Alkitab mengumpamakan kita sebagai kawanan domba dengan TUHAN sebagai gembala. Salah satu sifat domba adalah mematuhi suara yang telah mereka kenal dengan baik, yaitu suara gembalanya. Karena itu penting bagi kita untuk mengenali suara gembala Agung kita yaitu TUHAN sendiri. Kekristenan secara sederhana tak lebih dari mengenal pribadi TUHAN. Pelayanan kristen dalam bentuk paling sederhana adalah melakukan kehendak-Nya. Jadi dapat kita pahami betapa pentingnya untuk berkomunikasi dengan TUHAN supaya dapat mengenal-Nya dengan benar.
“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
1. Apa akibatnya jika seorang yang mengaku pengikut Kristus namun tak dapat mengenali suara (dan pribadi) TUHAN? (Matius 7:23)
Kata 'kenal' dalam ayat tersebut berasal dari kata 'ginosko' yang artinya hubungan antara suami-istri yang dapat menghasilkan keturunan. Jadi pengenalan yang TUHAN inginkan adalah sampai pada tahap kedalaman menghasilkan buah.
Dalam pelajaran ini kita akan membahas dua aspek dalam berkomunikasi dengan TUHAN, yaitu: berbicara kepada Dia dan mendengarkan Dia berbicara. Itulah pengertian dialog: komunikasi dua arah.
Namun sebelum kita belajar dialog dengan TUHAN, ada dua pengaman yang perlu kita perhatikan dalam perjalanan masuk dalam dunia roh. Bila tidak waspada, kita akan menyangka itu suara TUHAN, namun sebenarnya itu suara setan atau suara hati sendiri. Beberapa pengaman tersebut adalah:
Suatu tingkat pemahaman Alkitab yang baik adalah prasyarat untuk dapat belajar berdialog dengan TUHAN. Pastikan setidaknya Anda sudah membaca seluruh perjanjian baru dan sedang membaca perjanjian lama. Karena setiap suara yang kita akui sebagai suara TUHAN harus diuji apakah sejalan dengan Firman Allah yang tertulis, yaitu Alkitab. Tidak ada kompromi mengenai hal ini.
Anda harus memiliki suatu hubungan yang bertanggung jawab, suatu komitmen untuk menunjukkan diri kepada tubuh Kristus. Kita tak dapat dengan angkuh berkata: perkataan Tuhan sudah ...
Sama seperti berbicara dengan seorang sahabat terdekat, partner, kekasih, begitulah Ia ingin kita berkata-kata kepada-Nya, leluasa, tidak kaku dan tanpa rasa takut. Tentu lain halnya jika kita berbicara dengan majikan yang kita segani atau bawahan yang sering kita perintah. TUHAN ingin kita datang pada-Nya dengan segenap hidup kita; sukacita dan dukacita, keberhasilan dan kegagalan, dalam keadaan semangat atau letih lesu, optimis atau penuh kekuatiran. Kalau kita menyelidiki lebih dalam doa-doa Daud, kita akan menemukan ia bukanlah orang yang membungkus pikiran dan perasaannya ketika datang pada TUHAN. Doa-doanya pun bukanlah sederetan permintaan atau perintah kepada TUHAN seperti layaknya majikan kepada bawahan.
Sebaliknya, bangsa Israel pada jaman Musa tidak memperlihatkan kerinduan untuk bersekutu dengan TUHAN sebagai sahabat (Keluaran 20:19). Mereka cukup puas berkomunikasi dengan-Nya lewat perantaraan nabi. Sekalipun saat itu belum lahir hukum Taurat, namun mereka takut menghadap hadirat TUHAN, karena ketika menghadap TUHAN, segala bentuk dosa dan ketidakmurnian hati tidak akan bertahan. Mereka memilih untuk menunjuk Musa sebagai perantara komunikasi dengan TUHAN daripada memilih membersihkan hidup mereka dari hal-hal yang tak berkenan. Padahal yang TUHAN rindukan bukanlah suatu hubungan berdasarkan daftar-daftar hukum melainkan suatu hubungan yang tanpa kekangan, komunikasi yang akrab, terbuka dan jujur, suatu persekutuan yang menghasilkan kehidupan.
1. Sebutkan bagaimana perasaan Daud ketika ia berdoa dalam:
a. Mazmur 51:4-6,11,16
b. Mazmur 142:2-7
c. Mazmur 109:1,2,6-9
d. Mazmur 145:1-3
Tuliskan ayat-ayat lain yang menggambarkan berbagai perasaan yang dicurahkan Daud kepada TUHAN.
| AYAT | PERASAAN YANG DILUKISKAN |
|---|---|
| (Isi sendiri) | (Isi sendiri) |
| (Isi sendiri) | (Isi sendiri) |
| (Isi sendiri) | (Isi sendiri) |
2. Pernahkah Anda mengungkapkan kepada seseorang perasaan Anda yang terdalam? Sedih, marah, sukacita, putus asa? Pernahkah hal serupa Anda ungkapkan kepada TUHAN? Dan apa yang Anda rasakan setelah mencurahkan isi hati kepada TUHAN/sahabat Anda?
3. Baca dan pelajari Keluaran 20:18-21 dan Ulangan 5:22-31.
a. Mengapa bangsa Israel takut dan tidak mau mendekat ke tempat dimana Allah menyatakan hadirat-Nya?
b. Menurut Anda apa yang dilambangkan oleh api dalam kisah itu?
c. Apa solusi yang mereka tawarkan untuk Musa supaya mereka tidak mati?
4. Dari kedua contoh hubungan dengan TUHAN di atas, mana yang menggambarkan kondisi hubungan Anda dengan TUHAN? Apakah Anda berkomunikasi dengan-Nya seperti sahabat atau melalui perantaraan orang lain (pendeta, pembimbing rohani, dsb.)?
Mendengar suara TUHAN adalah sesuatu yang perlu kita pelajari. Belajar adalah suatu proses bertahap, dalam tahap awal mungkin sering salah, namun seiring dengan berjalannya proses belajar yang sungguh-sungguh, kita akan semakin mengerti akan kebenaran yang kita pelajari. Pada prinsipnya, TUHAN dapat berbicara lewat cara apapun (suara yang benar-benar dapat didengar langsung bahkan sampai melalui seekor keledai) dan pada siapapun (pada seorang nabi/imam, gembala yang sederhana, raja/pemimpin bangsa, bahkan pembunuh/penganiaya jemaat), sesuai dengan kemahakuasaan-Nya. Namun jika kita ingin mulai belajar mendengar suara-Nya, kita perlu memiliki kehausan untuk mencari wajah-Nya dengan segenap hati dan bukti dari kehausan itu adalah kita mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan yang dapat kita lakukan antara lain:
Ketika kita mau mencari dan mendengarkan TUHAN dengan segenap hati, sangat penting untuk menyiapkan kondisi batin kita, supaya dalam pikiran kita tidak berkecamuk suara-suara lain. Kita harus mengarahkan hati dan pikiran pada TUHAN saja. Kadang-kadang berdiam diri kita artikan sebagai pergumulan untuk menjadi tenang, akibatnya kita akan semakin tegang. Padahal berdiam diri tidak berarti melakukan sesuatu, hanya berserah, berhenti berusaha, dan menjadi santai dalam hadirat-Nya. Untuk itu mencari tempat dan waktu yang tepat akan sangat mendukung proses ini. Tentu saja tempat dan waktu yang baik hanyalah pendukung saja (terutama bagi yang baru belajar), bukan syarat yang harus dipenuhi dalam mendengarkan suara TUHAN, karena darah Yesuslah yang melayakkan kita menghampiri-Nya.
1. Pelajari latar belakang kejadian apa saja yang dialami oleh Yesus dalam Markus 1:14-35 dan oleh Elia dalam 1 Raja-raja 19:1-8 dan kemudian apa yang dilakukan oleh mereka?
2. Apa yang Anda lakukan bila persoalan sehari-hari mengganggu konsentrasi pikiran kita untuk menghadap TUHAN? Bandingkan apa yang Anda lakukan dengan apa yang diperbuat Habakuk dalam Habakuk 2:1-4.
3. Bagikan dan diskusikan dengan rekan-rekan seiman Anda apa yang dapat membantu kita untuk mengarahkan konsentrasi pada TUHAN. (misalkan dengan musik dan nyanyian rohani, ...)
Dalam Habakuk 2:1-4, setelah Habakuk berdiam diri di tempat pengintasian TUHAN menyuruhnya untuk menulis apa yang akan difirmankan-Nya. Pencatatan atau memiliki sebuah jurnal yang merekam dialog kita dengan TUHAN akan menjadi suatu cara yang ampuh untuk banyak orang dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan TUHAN. Dalam jurnal itu kita mencatat apa yang menjadi doa-doa kita kepada TUHAN, seluruh ungkapan hati kita (bukan daftar permintaan saja), kita juga mencatat apa yang kita yakini sebagai jawaban-Nya (akan dibahas di sub-bab selanjutnya). Sebagian besar isi kitab Mazmur adalah contoh jurnal pribadi raja Daud.
4. Sebutkan beberapa kitab lain dan pasalnya yang merupakan jurnal/pencatatan yang berisikan pengalaman pribadi penulisnya dengan TUHAN.
Manfaat pencatatan:
Kalau kita pelajari Alkitab, ada banyak sekali cara TUHAN dalam berkomunikasi dengan manusia. Secara umum, TUHAN dapat berbicara kepada kita melalui:
Sebenarnya cara iblis mengkomunikasikan pikirannya pada kita ini adalah hasil dari meniru cara yang TUHAN gunakan untuk mengomunikasikan pikiran-Nya. Orang yang pikiran dan hatinya belum dipersembahkan kepada TUHAN akan dikuasai oleh iblis dan digunakannya untuk merusak dan membunuh. Namun jika kita mengerti perkara ini, seharusnyalah pikiran kita lebih sering menangkap ide/gagasan yang datang dari Roh Kudus, yang tentunya bersifat positif, membangun, dan sejalan dengan karakter TUHAN. Suara TUHAN yang terdengar dalam hati secara spontan (bukan analitis dan kognitif) ini, lebih lazim terjadi daripada suara yang langsung terdengar seperti kisah Samuel (1 Samuel 3) atau Musa (Keluaran 3).
1. Bagikan dan diskusikan dalam kelompok tentang pengalaman komunikasi yang diuraikan pada nomor 4) di atas.
2. Pelajari cara firman TUHAN disampaikan dalam:
a. Kisah Para Rasul 16:9 kepada Paulus
b. 1 Raja-raja 3 kepada Salomo
c. Daniel 7 kepada Daniel
d. Kisah 10:10-16 kepada Petrus
e. Kisah Para Rasul 7:55-56 kepada Stefanus
Pada pertanyaan 2b. dan 2c., Salomo dan Daniel mendapat visualisasi ketika mereka sedang tidur atau mimpi pada malam hari. Sedangkan pada 2d. Petrus tidak sedang tidur namun dibuat tak sadar oleh TUHAN, di situ dikatakan rohnya diliputi kuasa ilahi. Dan pada bagian 2e. Stefanus tidak sedang tidur, tidak pula tak sadarkan diri, ia tetap sadar, namun ia dikaruniakan untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat mata jasmani melainkan hanya dengan mata rohani. Ketiga contoh visualisasi ini tidak lazim dan bersifat supra-alami.
Ada dua jenis lagi yang lebih normatif dan kurang bersifat spektakuler, begitu normal, sederhana dan alamiah sehingga seringkali kita menganggapnya pikiran sendiri dan cenderung mengabaikannya. Jenis ke-empat dan lima ini berupa gambar dalam hati yang muncul secara spontan dan tanpa dicari. Jenis ini mungkin tidak tercantum secara hurufiah di Alkitab, namun tidak pula tidak Alkitabiah. Sebagai contoh seseorang mendengar bahwa temannya terkena musibah perampokan, dalam imajinasinya secara spontan terbayang dirinya juga akan terkena musibah itu, ia menjadi kuatir dan takut. Yang terjadi sebenarnya adalah setan sedang memasukkan ide/gagasannya ke dalam pikirannya. Jadi kalau setan dapat menyampaikan idenya melalui imajinasi, bukankah begitu pula TUHAN. Justru setanlah yang sebenarnya meniru cara TUHAN berfirman Ia memakai imajinasi kita untuk mentransfer idenya.
Adalah sebuah prinsip: bahwa apa pun yang tidak sungguh-sungguh dipersembahkan pada TUHAN, akan digunakan oleh setan. Begitu juga halnya dengan imajinasi kita, lebih sering diisi oleh siapa? Dengan mengetahui karakternya kita dapat tahu siapa yang mengisi pikiran/imajinasi kita. Jika pikiran atau hati kita berisi: kekuatiran, hawa nafsu, kegagalan, kecurigaan, itu pasti setan yang mengisi. Sedangkan kalau pikiran kita berupa analisis, pilihan sikap, itu berasal dari diri sendiri. Misalnya ketika seorang laki-laki mengingini seorang wanita dalam hatinya. Namun seberapa sering imajinasi kita diisi oleh TUHAN sebagai salah satu cara-Nya berkomunikasi dengan kita.
Jika kita dapat mulai belajar berkomunikasi dengan TUHAN lewat visualisasi dengan cara mulai membaca Alkitab sambil mengimajinasikan apa yang kita baca dalam benak kita. Dan yang paling penting kita memerlukan iman untuk itu (Ibrani 11:6) dan siap untuk menguduskan imajinasi kita agar semakin sering TUHAN pakai untuk berkomunikasi dengan-Nya.
Setelah kita mempelajari berbagai cara 'mendengar' Firman TUHAN, perlu kita ingat bahwa tujuan kita berkomunikasi dengan TUHAN bukanlah semata-mata mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita, bukan pula sekedar untuk mencari petunjuk-Nya atas berbagai persoalan dalam hidup kita. Kalau kita hanya sekedar mencari petunjuk atau jawaban-jawaban tertentu, maka kita menjadi seperti orang yang datang ke dukun atau peramal saja. Namun di atas semuanya itu hubungan yang semakin intim dengan TUHAN sepatutnya menjadi kerinduan kita yang terdalam. Pikiran dan perasaan yang semakin serupa dengan Kristus akan mendorong kita untuk meresponi setiap perkataan-Nya dengan taat dan setia.
1. Bagaimana kita dapat mengenali siapa yang empunya sebuah suara/gagasan? (Matius 7:16-20; 12:33)
2. Sebutkan beberapa karakter/sifat suara atau gagasan dari:
a. TUHAN
b. Setan
c. Diri sendiri
3. Baca dan pelajari 1 Yohanes 4:1-6. Bagaimana kita membedakan gagasan dari TUHAN atau dari setan?
Setan tidak pernah menginginkan kita menyembah dan meninggikan TUHAN dalam hati kita. Karena itu seringkali ia menipu dengan cara memberi ide yang tampaknya baik namun jika diuji lebih dalam, pribadi yang ditinggikan, disembah dan menjadi pusat bukanlah TUHAN tapi ego kita (keinginan mata, keinginan daging, keangkuhan hidup) atau pribadi setan sendiri. Hal ini terjadi ketika iblis mencobai Yesus di padang gurun, ia menawarkan ide yang sekilas sepertinya sesuai dengan Firman TUHAN, namun intinya meminta penyembahan bagi dirinya (baca Matius 4:1-10).
Salah satu sifat/karakter suara TUHAN adalah terbuka untuk diuji. Jika seseorang mengaku bahwa ia menerima suara/penglihatan dari TUHAN, tetapi tidak bersedia mendengar masukan dari saudara seiman karena ada kekuatiran untuk mendengar hal yang berbeda/bertentangan maka perlu diragukan apakah memang suara TUHAN yang ia dengar karena salah satu sifat iblis adalah tertutup, artinya takut pada terang. Iblis akan mendorong kita untuk tidak bersekutu dan berbagi dengan saudara seiman karena seorang yang sendiri akan mudah untuk terkena umpannya.
Seringkali kita mengalami kebuntuan dalam menjalin komunikasi dengan TUHAN. Pelajari beberapa penyebab yang lazim berikut:
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
1. Dalam Ibrani 11:6 apa yang harus kita miliki ketika menghadap Tuhan?
Jika kita ragu-ragu; apakah TUHAN akan mendengarkan aku? Kita tidak akan berkenan pada TUHAN. Karena itu jika kita kekurangan iman, bangunlah iman melalui penyembahan dan juga bahasa roh. Jurnal-jurnal pribadi yang lalu juga dapat mengingatkan kita kembali akan kasih setia-Nya.
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.”
2. Menurut 1 Yohanes 3:21, apa yang menghalangi kita menghampiri TUHAN?
Perasaan "aku tidak layak dan TUHAN tidak akan berkenan padaku" dapat berasal dari Roh Kudus atau dari Iblis. Jika memang ada suatu dosa yang belum diselesaikan, Roh Kudus-lah yang menginsafkan kita. Karena itu pengakuan dan pertobatan merupakan satu-satunya jalan memulihkan hubungan kita dengan TUHAN. Namun jika sesudah kita uji tidak ada dosa yang ...
3. Hati nurani yang tidak bersih. Objek dakwaan Iblis tidak hanya diri sendiri, namun ia juga sering mendakwa keluarga dan saudara-saudara seiman dalam pikiran kita sehingga hati nurani kita penuh dengan sikap menyalahkan orang lain. Pengaruh roh yang menghakimi ini dapat juga kita terima dari orang lain yang bergaul dengan kita dan memiliki sifat destruktif, dan negatif. Karena itu penting memilih teman untuk bergaul (1 Korintus 15:33). Bahkan jika roh yang mendakwa ini terus dibiarkan pada akhirnya iblis akan membuat kita mendakwa/menyalahkan TUHAN.
“Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, maupun dengan Urim, maupun dengan perantaraan para nabi.”
4. Selidiki mengapa dalam 1 Samuel 28:6, TUHAN berdiam diri terhadap Saul?
Jika kita belum menaati perkataan TUHAN yang sudah kita dengar, TUHAN cenderung untuk tidak berkata-kata lebih lanjut.
“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”
5. Dalam Yakobus 4:3, motivasi seperti apa yang menghalangi TUHAN untuk menjawab doa kita?
Seringkali apa yang kita minta sangat mudah untuk TUHAN jawab, namun jika kita memintanya dengan sikap hati atau maksud yang tidak berkenan, maka TUHAN tidak akan menjawab ...
6. Baca dan pelajari Daniel 10. Dalam kisah itu apa yang menghalangi jawaban TUHAN atas doa kita? Apa pula solusi yang dilakukan Daniel?
Ambil waktu khusus untuk berdialog dengan TUHAN dan membuat sebuah jurnal pribadi seperti yang telah dijelaskan di atas. Lalu bagikanlah apa yang Anda dapatkan dengan saudara seiman yang Anda percayai dan cukup dewasa untuk memberi masukan/saran. Ayat-ayat, kejadian dan kesan yang diperoleh harus dicatat untuk menghitung berapa banyak pewahyuan yang diterima dan dapat diuji.